Daun Kelor Kian Melejit, Kini Tembus Ke Pasar Eropa

Koran-beritaindonesia.online | KOTA TANGERANG – Indonesia kaya tak terhingga akan bahan baku herbal karena memiliki keanekaragaman hayati yang melimpah, Minggu (1/5/2025).

Banyak tanaman obat tradisional yang digunakan dalam ramuan herbal, seperti jamu dan juga sebagai bahan baku obat-obatan modern, salah satu diantaranya yang dicari oleh masyarakat dalam negeri dan luar negeri.

Teh D’ Dikeloku atau Tee Moringa, sudah melakukan uji laboratorium,
mikrobiokimi uji kimia untuk menilai kualitas, juga melakukan uji mikrobiologi uji kimia dan uji organoleptik, organoleptik demi untuk menghasilkan kualitas terbaik diantara yang baik, sehingga menghasilkan produk terpercaya.

Teh D’ KELORKU memiliki bubuk daun kelor dengan warna hijau terang, bukan coklat kusam, menunjukkan kualitas terbaik.

Teh D’ KELORKU terbuat dari bahan baku daun kelor termasuk ke dalam famili Moringaceae yang memiliki daun berbentuk bulat telur dengan ukuran kecil-kecil bersusun majemuk, daun kelor termasuk salah satu tanaman perkebunan.

Ali Nasution pakar kesehatan Nusantara, menyampaikan daun kelor tidak hanya diperjualbelikan bahan baku mentah saja di pasar tradisional, daun kelor bisa diolah menjadi beragam jenis produk turunan seperti varian minuman maupun makanan, produk kesehatan bahkan produk kecantikan alami.

“Manfaat daun kelor memang beragam, tak heran banyak yang mulai menggeluti usaha kelor ini, kelor termasuk superfood yang diminati oleh pembeli di luar negeri dan di dalam negeri karena kandungan nutrisinya yang berlipat-lipat dari komoditas lainnya,” terang Ali Nasution dengan memperlihatkan produk D’ Kelorku.

Prospeknya pun sangat luas lanjutnya, karena memiliki spektrum turunan produk yang beragam, menjadikan produk ini semakin dicari dan diminati banyak negara, Sedangkan Produksi Sesuai Permintaan Pembeli

Ali Nasution menambahkan produksi berdasarkan permintaan pembeli, sehingga tidak seluruh kebun kelor aktif berproduksi setiap hari.

“Biasanya kami hasilkan produk dasar berupa daun kelor kering yang kemudian menjadi produk akhir seperti teh seduh dan teh celup (murni dan mix dengan teh hijau, teh hitam, teh putih, bunga melati, telang, jeruk nipis, dan lainnya) dan juga hasilkan kopi kelor, jahe kelor, jahe pandan, kelor rempah, cokelat kelor, puding kelor dan beragam makanan maupun minuman lainnya,” jelas Ali mendalam akan kesehatan dengan melihat besarnya potensi daun kelor,

Ali Nasution menjelaskan, dalam pengembangannya tentu perlu dukungan dari pemerintah terkait regulasi yang kuat maupun pembinaan atau pelatihan, guna melindungi eksistensi daun kelor Indonesia, peningkatan kualitas mutu produksi produktivitas, terobosan inovasi olahan hasil produk turunan, hingga pengakuan bahwa kelor ini berpotensi sebagai komoditas usaha.

“Saya berharap, pemerintah dapat terus berperan aktif dan secara kontinyu memberikan dukungan dan fasilitasi pengembangan komoditas kelor, baik berupa standar budidaya organik, standar pengolahan promosi pasar maupun bantuan alat peralatan produksi,” harap Ali Nasution pada pemerintah khususnya pada Kementerian Perdagangan R.I.

Editor : Edward. AN.

Share this content:

Post Comment