“NIA” Kisah Tragis yang Disuarakan Lewat Layar Lebar Karya Ronny Mepet
Oleh: Edward AN )*
Produser dari PT. Smara Dana Pro dan 786 Aditya Gumay serta Line Produser Vivi Misroyani membawa kisah tragis Nia Kurnia Sari ke layar lebar melalui film berjudul “NIA”. Film yang disutradarai oleh Ronny Mepet dan Aditya Gumay sekaligus penulis.
Cerita ini mengungkapkan realitas kelam di balik pembunuhan seorang gadis muda di Padang Pariaman, Sumatra Barat, yang mengguncang hati masyarakat Indonesia pada tahun 2024.
Dengan pendekatan mendalam, Film ini tidak hanya merekonstruksi kejadian, tetapi juga menjadi seruan untuk keadilan dan perubahan sosial.
NIA menceritakan perjalanan hidup seorang gadis bernama “Nia” yang menjadi tulang punggung keluarga sebagai penjual gorengan, hingga akhirnya menjadi korban kekerasan brutal. Film ini menggali sisi emosional korban dan keluarganya, serta perjuangan hukum untuk menegakkan keadilan.
“Film ini bukan sekadar merekam tragedi, tetapi juga refleksi atas ketimpangan sosial dan lemahnya perlindungan hukum bagi perempuan. Kami ingin publik menyadari bahwa kasus seperti ini tidak boleh lagi terulang.” ungkap Ronny ,
Film ini memadukan wawancara eksklusif dengan keluarga Nia, teman, dan pihak berwenang, serta dokumentasi investigasi polisi. team film Nia juga menggunakan elemen sinematik seperti narasi visual yang kuat dan musik latar emosional untuk memperdalam dampak ceritanya.
Dengan menggambarkan latar pedesaan tempat Nia NKS tinggal, memberikan konteks budaya dan sosial yang melatarbelakangi kehidupannya. Pendekatan ini membuat film terasa lebih personal, namun tetap relevan secara universal.
Film NIA akan diputar perdana pada tahun 2025 akan datang, diikuti oleh diskusi panel dengan aktivis hak asasi manusia dan pembuat kebijakan. team berharap film nasional ini dapat menjadi katalisator perubahan.
“Semoga NIA tidak hanya menyentuh hati penonton, tetapi juga menggugah tindakan nyata untuk melindungi perempuan di ruang publik,” tambah Ronny.
Film komersial “NIA” tidak hanya menjadi upaya mengenang sosok korban, tetapi juga sebuah panggilan untuk introspeksi dan aksi kolektif. Lewat film ini, Ronny Mepet & Aditya memberikan suara bagi mereka yang selama ini terpinggirkan, menjadikan seni sebagai alat perjuangan sosial yang nyata.




Post Comment