Menolak Lupa di Era Digital: Merawat Ingatan Kolektif di Tengah Kepungan Budaya Instan

koran-beritaindonesia.online | JAKARTA — Di era di mana perhatian manusia diukur dalam hitungan detik lewat guliran jempol di layar gadget, kebudayaan perlahan-lahan sedang mengalami penyusutan makna. Tradisi lisan yang sarat falsafah, kesenian rakyat yang intim, hingga nilai luhur seperti gotong royong kini dipaksa bersaing dengan algoritma media sosial. Kebudayaan tidak lagi dihayati sebagai ruang kesadaran, melainkan direduksi menjadi konten cepat saji: mudah dikonsumsi, cepat viral, namun dangkal secara pemaknaan.

​Merespons krisis makna dan melemahnya ingatan kolektif masyarakat tersebut, Jaringan Kebudayaan Rakyat (JAKER) mengambil langkah konkret. Mereka menginisiasi sebuah Diskusi Kebudayaan bertajuk “Merawat Ingatan di Tengah Budaya Instan dan Krisis Makna di Era Digital”.

​Diskusi yang dirancang sebagai ruang refleksi kritis dan dialog terbuka ini digelar pada Sabtu sore (23/05/2026), bertempat di Ruang Belajar Perpustakaan Jakarta, Gedung Ali Sadikin Lantai 6, Taman Ismail Marzuki, Jakarta Pusat.

​Dinamika ruang publik hari ini memang memperlihatkan pergeseran yang mencemaskan. Informasi bergerak dalam kecepatan eksponensial, namun tidak diiringi dengan kedalaman literasi.

​Masyarakat hari ini cenderung lebih cepat bergolak oleh pernyataan kontroversial tokoh publik, polemik identitas personal, atau narasi politik yang repetitif, ketimbang mendiskusikan isu-isu yang bersifat substantif. Bahkan, konflik geopolitik internasional yang rumit pun kerap kali didegradasi menjadi potongan informasi (snippet) yang instan dan eksploitatif secara emosional.

​Realitas yang seharusnya dipahami secara multidimensional justru disederhanakan demi konsumsi cepat. Akibatnya, ruang publik digital tidak lagi sepenuhnya menjadi tempat pertukaran gagasan yang sehat, melainkan telah bergeser menjadi ruang reproduksi sensasi dan tontonan belaka.

​”Kebudayaan tidak dapat dilepaskan dari dinamika sosial, ekonomi, dan politik masyarakat. Di era digital, relasi itu kian kompleks karena platform digital telah menjelma menjadi ruang baru dalam pembentukan makna budaya,” ungkap perwakilan JAKER dalam pengantar diskusinya.

​Dipandu oleh Elsy Damayanti (Ketua Wilayah Jaker DK Jakarta) selaku moderator, diskusi ilmiah ini membedah fenomena digitalisasi budaya dari berbagai sudut pandang dengan menghadirkan para pembicara yang kompeten di bidangnya:

  • ​-. Yuni Asrianti (Komnas Perempuan): Menyoroti bagaimana transformasi digital memengaruhi ruang aman, relasi gender, dan eksploitasi identitas di ranah maya.
    • ​-. Beky Mardani (Budayawan Betawi): Memotret nasib tradisi lokal dan kesenian rakyat yang kian kehilangan ruang hidup (ekosistem) aslinya dalam praktik keseharian masyarakat urban.
    • ​-. Dominggus Oktavianus (Pemerhati Sosial): Membedah dampak struktural dari budaya instan terhadap keretakan sosial dan pendangkalan daya kritis masyarakat.
    • ​-. Sony Laurentius (Dewan Pengawas Jaker): Menekankan pentingnya memformulasikan kembali strategi kebudayaan rakyat agar mampu mengonfrontasi arus komodifikasi digital.

Kehadiran Ketua Umum JAKER, Annisa, di tengah-tengah forum menegaskan komitmen organisasi dalam mengawal isu-isu kebudayaan kontemporer ini agar menjadi gerakan kesadaran yang terstruktur secara nasional.

​Merawat ingatan kolektif di era digital membutuhkan kerja keras bersama untuk memproduksi gagasan-gagasan tandingan (counter-narratives) yang mendalam, humanis, dan berakar pada realitas sosial masyarakat.

​Diskusi yang berlangsung selama dua jam (pukul 15.00 – 17.00 WIB) ini menjadi sebuah pemantik kecil. Sebuah pengingat bahwa di tengah kepungan budaya instan, masih ada ruang-ruang waras yang menolak lupa dan terus berupaya menjaga agar kebudayaan tetap hadir sebagai kompas kesadaran bangsa, bukan sekadar tontonan yang habis dalam sekali klik. (weni)

Share this content:

Post Comment