Lingko Warisan Tata Ruang Dalam Budaya Masyarakat Manggarai

Koran-beritaindonesia.online | LABUAN BAJO – Indonesia memiliki kekayaan budaya yang bukan hanya tampak pada tradisi, bahasa atau ritual, tetapi juga pada cara Masyarakat mengelola ruang dan alam.

Sebagaimana yang dikatakan Augustinus Rimus Angkat, sebagai Kadis Perpustakaan Daerah, bahwa
Contoh Budaya sistem tata ruang tradisional yang sangat unik adalah Lingko dari masyarakat Manggarai Provinsi Nusa Tenggara Timur.

Dia juga menyampaikan, dalam Kamus, Manggarai yang ditulis oleh Robert S. Ebat dan Fransiskus Ebat, pengertian Lingko adalah hamparan lahan dimiliki oleh suatu kampung biasanya digunakan untuk tujuan Perkebunan warga kampung (Beo).

“Lingko merupakan sistem tata ruang adat Masyarakat Manggarai yang mengabungkan prinsip komunalitas, keadilan, kosmologi dan keberlanjutan ekologis,” ujar Kadis Perpustakaan Augustinus Rimus Angkat saat ditemui dikantornya, Jumat (5/12/2025).

Dalam uraiannya dia menambahkan, Filosofi Lingko bukan sekedar pola pembangian lahan berbentuk jaring laba-laba tetapi merupakan sebuah sisten nilai, cara pandang hidup dan konsep kosmologi ruang yang pada prinsipnya mengatur hubungan manusia dengan alam leluhur dan sesama, Filosofi ruang dalam Lingko meliputi beberapa aspek utama antara lain

  1. Lodok (sebagai pusat Kosmo dan keteraturan) : bagi masyarakat Manggarai lodok tidak hanya sekedar sebuah titik geometris, akan tetapi merupakan sebuah pusat kehidupan dan simbol asal usul serta peningkatan hubungan antara manusia, alam dan leluhur,
  2. Moso (keadilan dalam pembagian) : pembagian moso dilakukan secara musyawarah dan setiap keluarga mendapatkan bagian berdasarkan genealogis dan bukan pembagian berdasarkan kekuasaan hal ini menujukan bahwa lingko sebagia sebuah contoh keadilan spasial tradisional,
  3. Lonto Leok (kebijaksanaan Kolektif) : Keputusan terkait seluruh tanah ulayat semua diputuskan melalui lontok leok (musyawarah). Hal ini menunjukan bahwa masyarakat Manggarai menjunjung tinggi yang namanya kebersamaan dan kesetaraan,
  4. Harmoni ekologis : lingko tidak hanya tentang ruang pertanian semata akan tetapi lebih berbicara tentang sistem yang mengatur hubungan manusia dan alam,
  5. Lingkaran sebagai simbol persatuan : pesan penting dari simbol ini adalah solidaritas dan persaudaraan menjadi nilai yang harus dijunjung tinggi.
    Relevansi Konsep Lingko dalam perencanaan modern.

Konsep Lingko lanjutnya, sebagai salah satu hasil arsitektur tradisonal orang Manggarai yang syarat nilai, sangat sesuai dengan prinsip perencanaan modern, terutama dalam aspek komunalitas, partisipasi, keberlanjutan dan prinsip keadilan ruang.

“Ditengah Bangsa Indonesia diliputi bencana alam karena faktor kerakusan manusia, maka konsep Lingko sangat menarik untuk dipedomani dalam konteks perencanaan tata ruang dan perencanaan pembangunan yang berakar pada indentitas lokal,” tegas Augustinus Rimus Angkat sambil membayangkan akan dahsyatnya musibah Banjir di beberapa daerah.

Integrasi konsep Lingko dapat memperkuat keadilan ruang, keberlanjutan ekologis dan identitas budaya dalam Pembangunan kontemporer.

Penulis Marselino / Awi
Editor : Edward. AN.

Share this content:

Post Comment