Lestarikan Tradisi Rowahan Rombongan Majelis Ta’lim At Tarodhi Ziarah Ke Sultan Hasanudin Banten

Koran-beritaindonesia.online | KOTA TANGERANG – Rombongan Majelis Ta’lim At Tarodhi Kota Tangerang melakukan Ziarah ke Syech Sultan Maulana Hasanudin Banten dalam rangka mengisi Giat Rowahan Bulan Sya’ban menyambut Bulan Suci Ramadhan.

Ust. H. Udid Habludin Lc, Langsung memimpin rombongan Majelis Ta’lim At Tarodhi didampingi oleh H. Suwatno, H. Tukiman, H. Sumarjono, melakukan salah satu program berziarah ke makam Syech Sultan Maulana Hasanudin Banten, dilanjutkan rekreasi ke Pantai Anyer, Sabtu (1/2/2025).

Usai doa bersama di makam Syech Sultan Maulana Hasanudin, rombongan lebih dari 150 orang Majelis Ta’lim At Tarodhi Kelurahan Gaga, Kecamatan Larangan, berangkat Ziarah menuju Pantai Anyer, ini merupakan bagian dari agenda Majelis Ta’lim At Tarodhi.

Tujuan diadakannya kegiatan ini adalah sebagai bentuk rasa syukur serta memohon restu pada pendahulu untuk kemajuan Majelis Ta’lim At Tarodhi dan warga ke depannya.

Acara ziarah ini merupakan bagian dari agenda rutin yang telah dilakukan oleh Majelis Ta’lim At Tarodhi setiap tahun untuk bertawassul kepada kekasih Allah SWT demi kemajuan.

Menurut Ust. H. Udid Habludin Lc. Inilah Makna Ruwahan dan Tradisi Saat Menyambut Bulan Suci Ramadhan, makan bersama di pinggir pantai.

“Ada beberapa macam tradisi yang dilakukan oleh masyarakat pada bulan syaban, yakni tradisi merayakan ruwahan di bulan Syaban dan menyambut bulan suci Ramadhan,” ujar Ust. H. Udid Habludin, Lc, usai makan bersama sambil melihat pantai Anyer Banten.

“Dalam istilah Jawa, bulan Syaban sering disebut juga dengan bulan Ruwah, sehingga kita dapat untuk mengirimkan doa ketika bulan Syaban atau bulan Ruwah. sedangkan tradisi ruwah atau ruwahan, yang tidak asing di telinga masyarakat,” tambahnya.

Mengirim doa kepada orang yang sudah meninggal baik itu orangtua, kakek, nenek, dan lain sebagainya.” tutur Ust. H. Udid Habludin, Lc.

Tradisi ruwahan biasanya dilakukan mulai pertengahan bulan Ruwah (bulan kedelapan dalam kalender Jawa) atau bulan Syaban dalam kalender Hijriah, oleh karena itu disebut ruwahan.

Dia juga mengingatkan, setelah melakukan tradisi ruwahan, acara pun dilanjutkan dengan melakukan tradisi nyadran yaitu membersihkan makam keluarga.

“Membersihkan makam juga merupakan bentuk perhatian sekaligus bukti bahwa kita, tidak akan melupakan orangtua dan saudara meskipun sudah tiada,” sebut Ust. H. Udid Habludin.

Lebih lanjut, Ia dan rombongan berharap di dalam kegiatan ini dapat memberi kebermanfaatan untuk masyarakat dan lingkungan.

Tentu tradisi ini untuk menyambut dan menghormati datangnya Bulan Suci Ramadhan.

Adanya persiapan diri menyambut bulan Ramadhan dianggap penting karena disebut sebagai bulan yang penuh dengan ampunan dan keberkahan nilai pahala, hal ini sesuai dengan sabda Rasulullah SAW mengenai keutamaan Bulan Suci Ramadhan dalam sebuah hadits

Editor : Edward. AN.

Share this content:

Post Comment