Hendra Buana NEO Gallery Hadirkan Pameran Tunggal Fantasi Sejarah Dan Spiritualitas Sapuan Kuas
Koran-beritaindonesia.online | JAKARTA – NEO Gallery, pameran tunggal Hendra Buana, maestro seni rupa yang dikenal dengan eksplorasi kaligrafi Islam dan filosofi alam Minangkabau, bertajuk “Pameran Lukisan Karya Masterpiece Hendra Buana” pameran ini berlangsung 2-16 Februari 2025 di NEO Gallery, Gedung Masterpiece Lantai 2, Jl. Tanah Abang IV No. 23-25, Jakarta Pusat, setiap hari pukul 09.00 –17.00 WIB, Minggu (2/2) 2025).
Dikurasi oleh kurator seni Dio Pamola, pameran menampilkan 42 karya yang mengajak pengunjung menyelami lanskap surealis dan spiritualitas khas dalam karya Hendra.
Acara pembukaan berlangsung pada 2 Februari 2025 pukul 14.00 WIB dan akan diresmikan oleh Menteri Kebudayaan Republik Indonesia, Fadli Zon.
Mengenal Hendra Buana dan Karya-Karyanya, Lahir di Bukittinggi pada tahun 1963, Hendra Buana merupakan lulusan Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta yang telah mengukir perjalanan panjang dalam dunia seni rupa.
Dia dikenal karena kemampuannya menggabungkan unsur kaligrafi Islam dengan elemen alam, terinspirasi dari filosofi Minangkabau “alam takambang jadi guru” – Sejak masa studi bakatnya telah mencuri perhatian, membawanya ke berbagai eksplorasi artistik yang semakin matang.
Dalam pameran ini, Hendra menampilkan sisi baru dari karyanya dengan pendekatan surealisme dekoratif, menciptakan pemandangan fantasi yang menghidupkan imajinasi.
Lewat warna-warna berani, tekstur dinamis, dan simbolisme kaya, ia membawa penonton ke dunia yang melampaui realitas, dulu, kini dan nanti mempertemukan budaya Nusantara dengan peradaban dunia, menghadirkan negeri imajinatif yang terasa akrab sekaligus asing.
Sementara itu, suatu sore di Tilatang Kamang, lanskap yang berkabut dan penuh misteri, menyiratkan jejak sejarah Perang Padri yang masih bergema dalam ingatan kolektif.

Keajaiban alam terjalin dalam Arau dalam Fantasi dan Arwana dalam Fantasi, di mana air langit dan kehidupan bawah laut melebur dalam harmoni yang magis, keseimbangan kosmis termanifestasi dalam Yin dan Yang, menghadirkan kontras antara gelap dan terang keteraturan dan kekacauan.
Sedangkan dalam Sebermula Jadi Hikayat Bahtera Nabi Nuh dan Yang Terdampar di Bukit Jodi, Hendra mengisahkan kembali legenda bahtera Nabi Nuh dengan sapuan kuas yang dramatis seolah menempatkan penonton di tengah riak gelombang yang membawa kisah-kisah lama ke masa kini.
Meskipun tidak secara eksplisit menampilkan kaligrafi Arab, esensi spiritual tetap menjadi benang merah yang menyatukan seluruh karyanya.
Dengan pendekatan visual yang menggugah, Hendra tidak sekadar melukis tetapi mengundang penonton untuk merenungkan hubungan manusia dengan alam, sejarah dan dimensi metafisik yang lebih luas.
“Kami merasa terhormat bisa menghadirkan pameran tunggal ini karena Hendra Buana adalah seniman dengan jiwa yang tulus lukisan-lukisannya berbicara dengan hati, mengajak kita masuk ke dalam dunia imajinasi yang penuh makna dan spiritualitas,” ujar Stefanus Randy Oenardi Raharjo, Direktur NEO Gallery.
Sementara salah seorang Kurator Dio Pamola yang sedang mengamati lukisan tersebut menambahkan, Pameran ini mengajak semua merenungkan bagaimana seni rupa bisa menjadi medium eksplorasi keindahan dan iman seseorang.
“Karya Hendra mengingatkan bahwa seni besar bukan sekadar soal kemegahan visual, tetapi juga tentang jiwa yang terkandung di dalamnya,” tulis Informasi Kunjungannya.
Pameran ini terbuka untuk umum dan gratis, pengunjung dapat melakukan registrasi langsung di lokasi untuk informasi lebih lanjut, silakan kunjungi Instagram @neogallery.idn atau hubungi 0812-8333-4157 – Mira.
(Gde. Mahesa).
Editor : Edward. AN.



Post Comment