Demo Mahasiswa Universitas Pancasila: Tuntut Rektor Dicopot & Pertanggungjawabkan Beberapa Kasus

(BI).Online – JAKARTA | Ratusan Mahasiswa Universitas Pancasila (UP) melakukan aksi unjuk rasa di depan gedung rektorat di Lenteng Agung, Jakarta Selatan, Selasa (27/2/2024).

Mereka menuntut pencopotan rektor nonaktif UP, Prof. Dr. Edie Toet Hendratno (ETH), yang diduga terlibat kasus pelecehan seksual terhadap dua staf kampus.

Massa aksi membawa spanduk dan poster bertuliskan “Stop Sexual Harassment”, “Rektor Pancasila Peleceh dan Cabut SK Rektor”.

IMG-20240228-WA0076-300x190 Demo Mahasiswa Universitas Pancasila: Tuntut Rektor Dicopot & Pertanggungjawabkan Beberapa Kasus

Mereka juga membakar ban dan menutup sebagian ruas Jalan Raya Lenteng Agung, sehingga mengganggu arus lalu lintas, kendaraan yang menuju ke Pasar Minggu diarahkan melewati area dalam kampus.

Koordinator aksi Rizky, mengatakan bahwa demo ini merupakan bentuk solidaritas mahasiswa kepada korban pelecehan seksual yang dilakukan ETH.

Ia menilai bahwa ETH telah mencoreng nama baik Universitas Pancasila dan merugikan civitas akademika.

“Kami menuntut Yayasan Pendidikan dan Pembina Universitas Pancasila (YPPUP) untuk mencopot ETH dari jabatan rektor dan memprosesnya secara hukum, kami juga meminta ETH memberikan klarifikasi serta pertanggungjawaban atas perbuatannya,” ujar Rizky.

Menurut Rizky, kasus pelecehan seksual yang melibatkan ETH sudah terjadi sejak Februari 2023, namun baru dilaporkan oleh 2 orang korban, yaitu RZ (42) dan D, pada Januari 2024. RZ adalah Kepala Bagian Humas Rektorat, sedangkan D adalah staf honorer.

“Korban RZ mengalami pelecehan saat bertemu dengan ETH di ruang kerjanya, ETH memeluk dan mencium RZ tanpa izin.

Korban D juga mengalami hal serupa saat mengantar dokumen ke ETH, ETH memegang payudara dan bokong D secara paksa,” ungkap Rizky.

Rizky menambahkan bahwa korban D sempat mengundurkan diri dari kampus karena trauma dan takut.

Sementara itu, korban RZ dimutasi ke pascasarjana UP setelah melaporkan kasusnya, Rizky juga menuding bahwa mutasi tersebut merupakan bentuk intimidasi dan pembungkaman.

“Kami mendesak YPPUP untuk memberikan perlindungan dan keadilan kepada korban, kami meminta pihak kepolisian untuk segera menangkap dan menjerat ETH dengan pasal pelecehan seksual, kami tidak akan diam sampai kasus ini selesai,” tegas Rizky.

Sementara itu, Wakil Rektor Bidang Akademik UP, Dr. Budi Santoso menyampaikan, pihak kampus telah menonaktifkan ETH sebagai rektor sejak 15 Februari 2024, Ia mengklaim bahwa penonaktifan tersebut dilakukan untuk memberi ruang kepada proses hukum yang sedang berlangsung.

“Kami menghormati hak korban untuk melaporkan kasus ini ke polisi, kami menghormati hak ETH untuk membela diri, kami tidak akan mengintervensi proses hukum yang sedang berjalan, kami berharap kasus ini dapat diselesaikan dengan cepat dan adil,” kata Budi Santoso.

Budi juga mengimbau kepada mahasiswa untuk tidak melakukan aksi anarkis dan mengganggu ketertiban umum. Ia meminta mahasiswa untuk kembali ke kelas dan melanjutkan aktivitas belajar mengajar. Ia berjanji bahwa pihak kampus akan terus berkoordinasi dengan pihak berwenang terkait kasus ini.

“Kami mengapresiasi aspirasi mahasiswa, tetapi kami juga meminta mereka untuk tidak merusak fasilitas kampus dan menghalangi lalu lintas kami berharap mahasiswa dapat menunjukkan sikap yang dewasa serta bijaksana dan kami akan terus memberikan informasi terkini tentang perkembangan kasus ini,” ucap Budi di tengah tengah mahasiswa.

(Lodi)

Share this content:

Post Comment